Asrizal Nurdin Danau
Recreance
Andrew
berlari semakin kencang bak dikejar babi hutan. Ia tak memperdulikan suara
ledakan di belakangnya. Andrew tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Ia terus
berlari secepat kilat, yang ada di otaknya ia harus selamat dari kekacauan lab
penelitian itu. Entah apa yang salah pada percobaan nya kali ini, mungkin saja
tim nya melakukan kekeliruan. Tubuhnya merinding luar biasa, wajahnya sudah
penuh dilumuri darah yang berasal dari pecahan kaca alat destilasi. Sesampainya
di depan pintu keluar laboratorium ia melihat kerumunan wartawan, polisi dan
segerombolan warga. "Syukurlah!" Ucapnya dalam hati karena telah
berhasil keluar dari kekacauan itu namun polisi langsung menyergapnya,
tangannya sudah dipasangi borgol, badannya yang sudah lunglai tidak mampu
menjelaskan apapun, Dari kejauhan tampak Dokter David tersenyum tanpa
membantunya.
"Andrew!"
Teriak Ronald berlari mengejar Andrew namun pintu mobil ini sudah tertutup
rapat.
Sesampainya
di sebuah gedung tua yang tak lain ialah penjara, seketika itu pula petugas
datang menjemput Andrew secara paksa, lalu membawanya pergi. Ia hanya bisa
tertunduk pasrah. Sipir menggiring paksa Andrew menuju sel.
"Hai!
Kita kedatangan pecundang baru" Teriak sipir berkumis tebal berjalan
melewati sel penempatan. Andrew merasakan hawa mencekam saat melalui sel
tahanan lain. Nyali Andrew ciut menatapi tampang sangar mereka. Ada tahanan yang
menatap dengan wajah bengis dan ada pula yang menatap dengan senyum sarkas.
Setiap pasang mata itu seakan isyarat ketika
kau berada di sini, maka kau akan menderita. Setelah andrew melangkah masuk
sel, sipir itu menutup pintunya dengan kasar. Andrew berjalan lesu sembari
menatapi jendela kecil besi di bagian atas belakang. Udara yang melewatinya sangat
sedikit. Melihatnya saja membuat Andrew sesak. Langit-langit selnya penuh
bercak noda, sangat kotor. Cukup membuat perutnya mual. Lantai semennya kasar
dan tidak nyaman diinjak. Tidak ada ranjang untuk tidur. Hanya lemari kayu
kecil di bawah jendela yang itupun sangat berserakan.
^^
Sudah
tiga bulan Andrew disergap dalam jeruji penjara ini, Keluarga Andrew maupun tim
penelitiannya tak satupun mengunjungi nya di penjara tua tersebut, Lab yang
selama ini jadi tempat favorit nya sudah mengacaukan seisi bumi. Ribuan warga
distrik mati mendadak. Cairan hasil kerja keras tim nya ternyata mendatangkan
bala. Tetesan cairan yang dulu ia perjuangkan itu kini berubah menjadi virus
corona yang menggerogoti distrik tanpa henti. Kini Andrew yang jadi mangsa,
teman satu jerujinya terdata sebagai pasien positif virus corona, Andrew
berusaha tersenyum namun dibalik itu suhu tubuhnya sudah tidak normal, dadanya
sudah sesak dan sulit untuk bernafas, seluruh tubuh nya kaku mati rasa,
perlahan matanya mulai redup redam hingga timbul seberkas cahaya putih seperti
ada yang menghampiri nya dan berkata "Anggota timmu berkhianat." Kata
tersebut terus diucapkan oleh pria berjubah hitam, suaranya terngiang dan
berdenging di telinganya sangat kencang. Siapakah
orang yang dimaksud pria itu? ucapnya bertanya- tanya dalam hati. Otaknya
terus memaksa Andrew untuk mencurigai tim penelitiannya itu. Ronald? Tidak
mungkin. Ia sahabat sejatinya lagi pun ia ahli biologi yang sangat teliti.
Alvin? Tidak mungkin, gelar profesor yang ia dapat di bidang farmasi itu
terbukti dengan kesuksesan nya pada tiap penelitian. Dokter David? Tidak
mungkin juga, karena ia dokter profesional di distrik ini. Jadi siapakah orang
yang mengkhianatiku? Dan apa kepentingan nya dibalik kekacauan ini? Sumbu
kepala Andrew makin berdenyut ia tak mau berfikir lebih banyak ia pun berusaha
agar matanya terpejam.
"Andrew."
Teriak seseorang diujung sana yang tidak
asing suaranya untuk didengar.
"Ronald?
Aku disini di jeruji ini!" Sontak Andrew spontan. Suara langkah kaki itu
kian mendekat. Tubuh tegap Ronald terbujur kulai tepat di depan jerujinya.
"Bagaimana
kau bisa menebus batas jeruji itu?"
"S...semua..
petugas penjara s.. sudah mati!" Teriak Ronald membuat seisi jeruji
mendengar teriakannya. Sontak seluruh napi yang masih hidup mendorong pintu
jeruji agar mereka bisa menyelamatkan diri.
"Hoi
yang disana!"
"Buka
pintunya !"
"Selamatkan
kami atau kau akan kami bunuh!" Seisi jeruji pun membuat kehebohan
"Jauhkan
ego kalian, kita pasti bisa keluar dari jeruji ini!" Ucap Andrew sedikit berteriak.
"J...
jangan banyak omong. D...dorong saja j.. jeruji itu... bersamaan. A...
aku...sudah k... kehilangan ken... kendali... n... napasku sudah sesak!!!"
Ucap Ronald memberi aba-aba. Tampaknya ia sudah terkena virus itu.
"Ayo
kita dorong!" Ucap Andrew memimpin.
"Atur
posisi masing-masing!" Sorak seseorang diujung sana.
"Satu..
dua.. tiga.. dobrak!" Ucap pria dari pintu jeruji pertama. Namun, usaha kami sia-sia, engsel pada pintu
jeruji tersebut masih tetap kokoh.
"Ayo
lakukan lebih kuat!" Ucap pria di pintu jeruji kedua.
"Satu
dua tiga, dobrak!" Sorak pria dari pintu lain. Beruntung pintu jeruji itu
langsung roboh, segerombolan napi saling mendorong agar bisa melarikan diri
secepat mungkin, tubuh Andrew yang makin lunglai berusaha keluar melewati
rombongan napi tersebut, ia berhasil menemukan Ronald yang sudah terkapar di
lantai, nafasnya tersengal- sengal sembari ingin memberi tahukan sesuatu kepada
Andrew.
"Cairan
itu." Ucapnya pelan.
"Hah?"
Tanya Andrew yang masih belum paham arah pembicaraan yang di maksud Ronald.
"C..
cairan itu s..sudah di nodai oleh Dav..." Lirih Ronald pelan sebelum
matanya benar-benar tertutup. Andrew benar-benar kehilangan sahabatnya oleh
virus yang mematikan ini
"Ronald
! Jangan tinggalkan aku!" Isak Andrew masih tak percaya dengan apa yang
ada di depan mata.
"Jangan
bohongi aku Ronald! Buka matamu! Kau kuat Ronald! Bertahanlah! " Sontak
Andrew namun percuma, denyut nadi Ronald benar-benar sudah berhenti, Andrew
langsung mendekap tubuh Ronald. Ia tak takut terdampak virus itu. Ia sudah tak
peduli akan virus tersebut, hidup nya sia- sia namun satu hal yang harus ia
lakukan sebelum virus itu menelik tubuh nya, ia harus mengungkapkan semua
kebenaran sebelum ia mati. Andrew pun bangkit dari rasa kesedihan yang
menyelimuti hatinya itu, Ia harus kuat dengan tubuh gemetar ia berhasil keluar
dari penjara itu.
"Ah..
sudah lama aku tidak merasakan angin luar." Lirihnya sembari wajahnya di
terpa angin petang, namun matanya terasa tak nyaman dengan apa yang ada di
jalanan. Banyak jasad yang terkulai di jalan layaknya polisi tidur yang melekat
pada tiap inchi jalanan.
"Apakah
semua ini salahku?" Teriaknya di jalanan sore yang sepi itu.
"Tuhan,
Aku tidak melakukan apapun!!" Soraknya sambil memukul kepalanya yang tidak
bersalah.
"Aku
yang melakukan nya hahahaha…" Ucap seseorang lantang. Spontan Andrew
membalikkan badan namun mustahil yang ia lihat adalah orang yang ia kenal
tertawa terbahak-bahak.
"Dokter
David? Kau..?" Ucap Andrew tak percaya sembari menatap setiap inchi tubuh
gempal dokter itu.
"Kenapa?
Kau merasa aku khianati? Asal kau sadar Andrew, kau yang mengkhianati kami, kau
mengambil peluang penelitian ini untuk nama baik kau saja kan?" Sindir
David membuat Andrew terperangah.
"Jaga
ucapan mu! Aku bukan seperti yang kau kira!" Ungkap Andrew perlahan
mendekati David.
"Vin…
Alvin..." Kode David pada seseorang yang bersembunyi di balik mobil milik
David.
"Jangan
munafik Andrew. Aku tau pangkatmu naik jika penelitian ini berhasil, maka itu
kami sengaja mengagalkan misimu ini" Ucap Alvin mencoba memenangkan
argumen miliknya.
"Kalian
berkhianat! Kalian tega membiarkanku membusuk di penjara dan terlebih kalian
membunuh semua orang di distrik ini termasuk Ronald!" Ungkap Andrew
menangis.
"Ronald
keparat itu juga mati? Hahahaha aku senang mendengar kabar baik itu." Ucap
Alvin tertawa bahagia.
"Tega
kalian mencelakakan teman sendiri! Ada dendam apa kalian kepadaku dan Ronald?"
"Jangan
banyak tanya Andrew, sebentar lagi nyawamu akan menyusul Ronald." Ungkap
David sambil menyodorkan pistol ke arah Andrew namun sayang belum sempat peluru
itu menembus badan Andrew, tubuh David terlanjur melepuh bersamaan pistol yang
ia genggam. Andrew hanya bisa termenung melihat karma berlaku pada David.
"Aku
bersamamu Andrew, maafkan aku, aku sengaja memasukkan bom jenis peluru di
pistolnya, David sangat serakah, ia dibayar ketua distrik untuk mengagalkan
penelitian kita." Lirih Alvin lalu memeluk Andrew yang sudah tak memiliki
energi lagi.
"Terimakasih
telah menjadi temanku, Vin. Maafkan aku
atas segalanya." Ungkap Andrew yang perlahan menutup matanya.
"Andrew!"
Teriak Alvin.
"Kita
pasti bertemu Andrew, Tunggu aku." Ucap Alvin lalu mengambil sebotol racun
yang telah ia sisipkan di kantong baju nya.
Judul: Asrizal Nurdin Danau
Author: Annisya Salsabila Rizfi
Asrizal Nurdin Danau
Reviewed by Zaidan Al - Banna
on
August 30, 2020
Rating: 5
