Bukan Mahkota Putri Louise
Bukan Mahkota
Putri Louise
“Virus Corona membuat negara di seluruh dunia termasuk Indonesia
kelabakan. Lembaga kesehatan Amerika Serikat The Centers for Disease Control
and Prevention menyebut bahwa Corona virus merupakan keluarga besar virus
dengan gejala mirip flu. kata Corona sendiri adalah bahasa latin untuk mahkota
adanya semacam duri berbentuk seperti mahkota di virus ini….”
Gue langsung mematikan televisi. Berbentuk seperti mahkota? Bukan
kah mahkota adalah lambang kekuasaan, legitimasi, keabadian dan kejayaan.
Biasanya mahkota indentik dengan raja atau ratu di suatu negara. Apakah
bentuknya seperti mahkota Tiara Fife milik Putri Louise? Atau Cambridge
Lovers Knot yang dipakai Putri Diana? Atau seperti mahkota Gandik Diraja
milik negara tetangga sebelah? Atau bisa jadi seperti mahkota mainan yang gue
beli ketika perpisahan SMP. Benar-benar
menarik, kebanyakan orang ingin mahkota di kepala namun aku yakin tidak ada
yang ingin virus mahkota di saluran pernapasan.
Benar-benar hari yang membosankan berbulan-bulan di rumah membuat
jiwa gue kepanasan. Biasanya gue dan teman-teman nongkrong di warung Bu Latif
atau have fun style anak muda,
jalan-jalan, pacaran, gosip di alfamart, selfie ala outfit of the day
dan hal-hal seru lainnya. Ya, hidup itu untuk senang-senang karna hidup cuman sekali.
Nakal dulu baru sukses!
Drrt..drtt..notif hp gue berdering..
Tiara :
“Huaaaa gue benci Dion,, tau gk loe semua ... dia jalan sama Nura, dasar cowok
bajingan..”
Dinda : “Kan gue udah bilang,
makanya waktu kecil loe harus ikut vaksin campak..”
Ifazah : “Buat apaan tu?”
Dinda : “Biar gk di campakin
XD”
Airin :
“Ahaahaaaa...haahaaa…”
Ifazah : “Wkwkwkwk..”
Tiara : “Diam loe semua!”
Airin : “Memangnya loe tau
darimana? Kan belum tentu juga.”
Tiara :
“Gue minta temani dia ngantari paket kakak gue tapi dia nolak katanya harus social
distancing lah physical distancing lah, ikut aturan pak BNPB lah eh
rupanya dia lagi jalan sama nura pegangan tangan lagi.”
Ifazah : “Tenang Ra, ntar kita labrak tu si tante.”
Dinda : “Gue ikut donk.. @afifah
@airin loe bakal ikut kan?”
Airin : “Pasti donk.. gue
suka beginian.”
Gue : “Gue gak.”
Dinda :
“Eh sumpah bocah paranoid satu ini, jangan bilang loe gak mau ikut karna takut
virus wuhan.”
Ifazah : “B aja kali.. hidup
mati di tangan tuhan.”
Gue : “Gue gak mau mati
konyol.”
Gue langsung mematikan hp, malas aja berdebat terlalu panjang
dengan mereka, mereka benar-benar tidak takut apa ya, ah sudahlah yang penting
gue aman. Sebenarnya gue benar-benar bosan tapi apa boleh buat. Kalau gue
terinfeksi kan bisa panjang urusannya apalagi gue anak kost.
Tetapi rasanya ada yang aneh, gue memang takut tertular virus
mahkota itu.. tapi ada hal yang lebih
gue takut kan. Tapi gue belum bisa
temukan apa yang bikin gue gelisah akhir-akhir ini.. perasaan was-was, ketakutan
atas sesuatu, tidak tenang, menggangu pikiran, apakah gue terlalu paranoid? Ah… sudahlah
lebih baik gue bersihi kamar sekali lagi.
“Afifah..buka pintu nya donk..” Gue langsung
terbangun..
“Ini teteh baru pulang dari Bandung, bawa sedikit oleh-oleh buat
kamu.. uhuuk..” sahut Teh Yuli.
“Makasih teh” jawab ku.
Tau aja si teteh satu ni.. gue kan lagi ingin ngemil, gara-gara
corona gue gak pergi ke manapun.. Rutinitas harian gue tidak berubah. Hanya di
kost, tidur, nonton, main hp, bersih-bersih, keluar seperlunya dengan tidak
melupakan protokol kesehatan yang berlaku.
Siang ini, gue dikagetkan dengan suara ambulance, semua
orang tau kali biasanya kedatangan ambulance itu karna apa, ya kan gak
mungkin karna ada pembagian sembako. Tapi kenapa dekat sekali? Lantas gue
keluar dari kamar gue, astaga? Dua orang petugas datang dengan memakai Alat Pelindung
Diri bak astronot menuju ke kamar sebelah gue, kamar Teh Yuli!
Gue langsung menutup pintu kamar gue. Gue shock, takut, ngeri..
astaga ada apa ini? Apa jangan-jangan Teh Yuli terpapar corona.
Pikiranku mulai tak karuan,perasaan takut tertular kini merasuki otak ku
seakan-akan tak memberi jeda untuk mengendalikan diri. Gue baru ingat ketika Teh
Yuli memberikan kue itu, dia batuk!
Keringat gue mulai bercucuran. Gue takut hal yang selama ini gue
hindari kini terjadi, gue berlari membuka jendela selebar-lebar nya, berusaha
mengambil oksigen sebanyak mungkin. Tuhan tolong.. gue gk mau mati konyol..
Perlahan gue mulai tenang.. tapi masih ada sisa-sisa rasa takut
yang membayangi. Gue lansung search all about this virus.
·
Gejala yang
paling umum : Demam, batuk kering, kelelahan.
·
Gejala yang
sedikit tidak umum:
- Rasa tidak
nyaman dan nyeri.
- Nyeri
tenggorokan.
- Diare.
- Konjungtivitis
(mata merah).
- Sakit kepala.
- Hilangnya
indera perasa atau penciuman.
- Ruam pada
kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki
·
Gejala serius:
- Kesulitan
bernapas atau sesak napas nyeri dada atau rasa tertekan pada dada
- Hilangnya
kemampuan berbicara atau bergerak.
Segera cari bantuan medis jika Anda mengalami gejala serius. Selalu
hubungi dokter atau fasilitas kesehatan yang ingin Anda tuju sebelum
mengunjunginya. Orang dengan gejala ringan yang dinyatakan sehat harus
melakukan perawatan mandiri di rumah. Rata-rata gejala akan muncul 5–6 hari
setelah seseorang pertama kali terinfeksi virus ini, tetapi bisa juga 14 hari
setelah terinfeksi.
Ok.. gue bakal lihat apa yang terjadi 14 hari kedepan. Gue pasti
baik-baik saja, yang penting gue selalu jaga kebersihan kamar, benda-benda di sekitar gue, kebersihan diri, konsumsi
makanan sehat, imunitas, dan tidak lupa mencuci tangan.
Sepertinya gurat keberuntungan berada di pihak gue, gue gak
merasakan gejala virus mahkota seperti yang gue lihat di internet. Gue
berencana untuk pulang kerumah saja, selain di daerah perdesaan cenderung lebih
aman, di rumah juga gue tak perlu repot-repot berhemat untuk makan sehari-hari.
Ya.. hidup sendirian di tengah kenarsisan virus mahkota memang menegangkan. Awalnya
gue memilih di kost saja karna kalau pulang khawatir malah membawa virus untuk
keluarga tapi kalau disini terus yang ada gue bisa mati kelaparan.
Hmm.. tidak ada yang kurang kan? Gue bersiap pulang
walaupun gue pasti akan merasakan kehareudangan yang parah bagaimana
tidak gue harus pakai Alat Pelindung Diri lengkap, masker 2 lapis, sarung
tangan karet plus kain, pakaian panjang, dan gue pakai sesuatu yang cuman gue
pakai di sekolah sebagai formalitas, sesuatu itu adalah jilbab.
‘Sampai juga..’ sahut gue dalam hati.
“Sampai rumah jangan lupa langsung bersihkan diri, jangan salam
dulu sama keluarga, cuci pakaian yang kamu pakai, kalo bisa yang ada di tas
kamu juga kamu bersihkan, pakai handsanitizer,
isolasi 14 hari.” Pesan ibu kos gue tadi pagi.
‘yaelah bu.. tanpa ibu kasih tau pun gue udah tau’
gerutu gue dalam hati.
Setelah semua pesan bu kos gue laksanakan, gue berniat tidur. Tetapi
suara anak-anak sampai suara ibu-ibu diluar mengganggu gue.
“Apa-apaan tu kok mereka tidak mendengarkan aturan pemerintah? Kenapa
pada ramai-ramai begitu. Mereka kan punya tv? masa gak lihat berita..” tanya ku pada
ibu.
“Ohh.. itu mereka belajar ngaji sama ustadz Salman, ustadz nya
lulusan madinah loh Fah, barangkali kamu mau belajar ngaji quran juga bareng
mereka. Oh iya bukan cuman anak-anak atau ibu-ibu, teman-teman sd kamu juga banyak
yang belajar ngaji disana. Ada Widya, Fani, hmm.. siapa lagi ya ibu lupa..” jawab ibu
plus penjelasannya panjang lebar.
“Ngaji Al-Quran apanya, baca iqro aja gue eh aku pusing..” jawab gue.
Yang gue tau ibu gak suka jika anaknya menggunakan bahasa gaul..
katanya terlalu sok modern, padahal kenyataannya ibu aja yang terlalu lama
tinggal di desa.
“Kan gak ada salah nya belajar dari nol, memang nya kamu gak malu?
Guru agama kamu selalu bilang kamu susah kalau disuruh hafalan, padahal yang di
hafal cuman 1-2 ayat. Kalau ibu tau kamu bakal seperti ini mendingan dari dulu
kamu ibu sekolah kan di pesantren.” jawab ibu.
“Pesantren?” Jawab gue sambil merinding.
“Kalau kamu gak mau belajar ngaji kamu bakal ibu pindah kan ke
pesantren..mana yang kamu pilih?”
“Iiiya bu fifah bakal ngaji kok.” Kata gue.
“Yaudah siap-siap sana” kata ibu.
“Tapi kan Fifah masih dalam masa karantina bu, lagian memangnya gak
masalah kalau ngumpul-ngumpul kaya gitu? Kalau di kota pasti udah digerebek
polisi.” Jawab gue.
“Ya sudah 14 hari lagi kamu belajar ngaji ya, awas kalau banyak
alasan lagi.” sahut ibu.
Sumpah kalau gue tau begini mending gue tinggal di kos aja. Dan 14
hari berlalu . Hari pertama gue pergi ke
mushala Al-Mujahidi, tapi gue gak sendirian gue bareng salah satu teman sd gue,
Widya.
“Eh ustadz nya udah datang.” sahut ibu-ibu
sebelah gue.
“Jadi pengajar nya bukan ustadz itu aja ya Wid?” tanya gue.
“Iyaa jadi disini bakal di bagi jadi 2 kelompok. Yang anak kecil
sama Kak Dewi kalau kaya kita atau ibu-ibu sama ustadz nya.”
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu..” Ustadz Salman
membuka pengajiannya.
“Seperti biasanya semuanya baca quran nya sendiri dan yang lain
mendengar kan.”
‘Duarrrrr..’ rasanya seperti di sambar petir, gue kan gak
bisa baca quran, gue mati rasa. Satu persatu membaca quran dan di beri komentar
oleh ustadz katanya ada yang dengung nya kurang lah ada yang qolqolah
atau apalah itu nya gk kebaca semua yang di ucapkan ustadz itu tidak ku
mengerti. Kini giliranku membaca.
“Maaf stadz gue gak bisa baca quran, gue disini mau belajar dari
nol, itu pun karna ibu gue maksa.” sahutku blak-blakan.
Yang gua tahu saat ini adalah banyak mata yang memandang gue, mungkin
mereka heran di usia segini gue belum bisa baca quran.
“Kalau gitu coba baca semampunya saja.” jawab sang
ustadz.
‘Hmmm bismillah..’ sahut gue dalam hati.
Gue pun membacanya sebisa mungkin. Jujur gue bingung sendiri, sebenernya
gue sedang baca quran atau baca mantra.. bacaan gue gak karuan.
“Wallahualam..” komentar ustadz.
“Kalau gitu kamu belajar iqra dulu sama kak dewi.”
Ini memalukan, yang belajar ngaji dengan Kak Dewi hanya gue donk
yang paling tua. Tapi apa boleh buat aturan ibu adalah mutlak. Daripada aku
harus ke pesantren antah berantah lebih baik disini.
Kini rutinitas gue berbeda. Disini ketika menjelang sore gue pergi
ke mesjid untuk belajar ngaji. Oh ya selama di rumah ibu selalu menyuruh gue
untuk sholat. Lagi-lagi ancaman ibu adalah sholat atau ibu sekolah kan kamu di
pesantren!.
Belajar ngaji memang melelahkan, tapi membuahkan hasil. Berhari-hari
gue tuntaskan huruf-huruf iqra, tak lupa masalah panjang pendeknya. Kini
gue udah di juz 1 Al-Quran dan gue juga lebih sering gunakan jilbab dan baju
panjang, kan gak mungkin gue ngaji pakai baju kurang bahan.
“Fah kamu hilangkan deh kata-kata aneh tu, kaya loe gue risih kakak
denger nya. Lagian kamu bisa ditatap sinis sama orang sini kalau ngomong
begituan, sekolah di kota kok malah buat kamu gak normal.” protes Kak
Ani
“Iya iya ntar gu.. aku biasakan” jawab gue.
Yang dikatakan Kak Ani mungkin benar, orang-orang pasti agak risih
dengan cara bicara gue saat ini.
‘Hoamm, aku ngantuk...’
‘Tidak seperti malam-malam sebelumnya nya, kini hari-hari ku
dirumah terasa lebih tenang, aku mulai bisa tidur dengan nyenyak hal yang
paling langka yang bisa aku rasakan di kost. Tapi apa yang terjadi?’ tanyaku dalam
hati.
Selama ini aku selalu merasa kan sesuatu yang membuatku sulit
memejamkan mata, kegelisahan, ketakutan yang tidak jelas. Tapi kenapa sekarang
semua nya baik-baik saja? Ini terasa aneh, membingungkan sekaligus melegakan.
“Wid, gue eh.. aku mau
cerita” sahutku.
“Tentang apa fah?” tanyanya
“Wid aku heran kenapa ya hari-hari aku terasa berbeda dari
sebelumnya, aku ngerasa jiwa aku tenang terkendali, tidur aku juga akhir-akhir
ini nyenyak banget. Kira-kira ada apa ya wid?” tanyaku
“Hmm mungkin karna membaca Al-Quran Fah, pas kamu bilang gak bisa
baca Al-Quran sama Ustadz Salman, aku ngerasa dulu kamu gak pernah membaca nya Fah.” jawab widya.
Aku merasakan getaran hebat seakan-akan aku tertampar oleh ucapan Widya,
tidak pernah membacanya.. tebakan Widya sangat akurat. Jangan kan membacanya
bahkan aku tidak punya Al-Quran di kost ku, ketika di rumah aku tidak
membacanya juga bukan karena tidak ada Al-Qur'an tapi karna ibu dan ayah juga
tidak banyak mengerti bacaan Al-Quran. Ibu sebelumnya bukanlah seseorang
agamis, tapi bibi terus-menerus mengajak ibu untuk kejalan yang benar,
sedangkan ayah.. ia sibuk dengan pekerjaan nya ia jarang sekali pulang ke
rumah.
‘Widya benar’ sahutku dalam hati.
Kami sudah menginjakan kaki di rumah Allah untuk rutinitas sore
hari.
“Kak Dew, apakah benar kalo Al-Qur'an itu bisa memberikan
ketenangan?” tanyaku.
“Iyaa benar Fah. Saat kamu membaca firman Allah SWT, kamu juga akan
merasa bahwa Allah SWT begitu dekat denganmu dan ini yang membuatmu tenang. Tidak
ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan Allah SWT dalam menyelesaikan
setiap permasalahan manusia. Maka dari itu, tidak heran ketika kamu sedang
membaca atau mengaji, hatimu akan terasa tenang dan tentram.” jawab Kak
Dewi sambil tersenyum.
Entah mengapa mendengar penjelasan kak dewi membuat ku ingin
menangis. Kegelisahan yang biasanya kurasakan tidak lain dan tidak bukan adalah
karna jauh nya aku dari Allah SW, .kini aku tersadarkan. Lantas aku pulang
dengan sejuta ketenangan, kini kegelisahan selama ini terjawab sudah. Terima
kasih Allah.
“Bu,aku mau pesantren.” sahutku.
Lantas ocehan ku membuat Ibu dan Kak Ani saling berpandangan..
“Loh kenapa tiba-tiba Fah?” tanya ibu.
“Fah, kamu gak salah makan?” sahut Kak
Ani.
“Ya gak apa-apa bu, Afifah ingin berubah, ingin hidup lebih baik dan
terutama Afifah ingin belajar Al-Qur'an lebih jauh lagi.”jelas ku.
“Ibu senang dengarnya Fah.” jawab ibu.
“Ternyata adek Ani yang nakal ini bisa tobat juga” sahut Kak Ani.
“Kan hati manusia terbolak balik kak..” jawab ku.
Kutipan ini baru saja aku baca di ig tausiyah agama hehe.
Hmm aku sudah gak sabar ingin cepat-cepat ke sekolah baru,ah ya
tadi aku memberi tahu teman-teman ku kalau aku akan pindah. Reaksi mereka
beragam ada yang bilang aku kesambetlah, ngikutin jejak Mamah Dedeh lah, bakal
jadi ukhti-ukhti jilbab lebar lah apapun yang mereka katakan keputusan
ku tidak akan berubah.aku akan lebih baik lagi.
Aku juga sudah membuang motto hidupku selama ini, nakal dulu baru
sukses ini motto yang keliru. Sejatinya, sukses menurut islam adalah
kebahagiaan yang kekal, yaitu kebahagiaan di dunia juga di akherat. Kita
sebagai manusia tentu selalu punya harapan untuk menjadi orang sukses, entah
itu dalam urusan dunia atau akherat.
Mungkin virus corona tidak seindah mahkota Putri Louise, begitu pun
mahkota putri lainnya, virus corona juga membawa banyak sekali sisi negatif diantaranya
matinya kegiatan perekonomian, penutupan sekolah, penutupan tempat ibadah dan
hal lainnya. Tetapi virus ini mampu menyadarkan manusia bahwa Kuasa Allah SWT
ini sangat lah besar. Hanya dengan corona Allah mampu menundukan kesombongan
rezim china, mampu membuat negara-negara di dunia kewalahan dalam menghadapi
virus yang secara kasat mata tidak dapat di lihat.
Dan Allah menitipkan pesannya melalui virus ini, mungkin aku adalah
satu di antara sekian orang yang berusaha lebih baik lagi sejak virus mahkota
ini merajai bumi.
Namun kuharap pandemi ini segera berakhir masih banyak hal yang
harus di lakukan, seorang ayah yang harus mencari nafkah, anak-anak yang perlu
sekolah, remaja yang mesti kuliah dan juga jomblo fi sabillillah yang harus
segera menikah.
Corona sudahilah pengembara mu. Kini saatnya engkau pergi, ingatlah
engkau hanyalah tamu pemberi nasehat sesaat.
Semoga Tuhan pulihkan dunia ini
Terlebih khusus Indonesia ku tersayang
Sembuhlah bumiku
Sembuhlah bumiku
Sembuhlah bumiku
~End
Judul: Bukan Mahkota Putri Louise
Author: Alya Latifatul Adawiyah
Judul: Bukan Mahkota Putri Louise
Author: Alya Latifatul Adawiyah

No comments: